Klasifikasi buku di perpustakaan

Pernah lihat label yang ditempel pada punggung buku (spine) di perpustakaan?

Label itu disebut “nomor panggil” buku atau call number.

Disebut call number atau nomor panggil karena bertujuan untuk memberi tahu di mana letak buku berada. Istilahnya “nomor untuk memanggil buku”.

Supaya seragam, label call number biasanya ditempel dengan ukuran yang sama rata pada buku. Misalnya ditempel dengan ukuran 3 sentimeter dihitung dari bagian buku yang paling bawah.

Call number terdiri dari angka-angka, tiga huruf pertama nama pengarang, dan huruf pertama judul (yang bukan kata sandang).

Contohnya label pada perpustakaan X:

label call number

Untuk baris ke dua dan ketiga yaitu “3 huruf pertama nama pengarang” dan “huruf pertama judul” sudah mengerti kan? Lalu bagaimana dengan angka-angka pada baris pertama?

Angka itu rupanya bukan sekedar deret angka tanpa makna. Angka yang ada pada call number tersebut biasa disebut sebagai “nomor klasifikasi”.

Nah mari kita masuk ke inti utamanya yaitu klasifikasi buku di perpustakaan.

Rumitkah klasifikasi buku itu? Tidak juga.

Lihat saja lemari atau kulkas di rumahmu. Di dalam kulkas atau lemari biasanya bahan-bahan makanan yang sama diletakkan berdekatan, bukan? Misalnya telur di tempat telur, sayur mentah semacam selada, sawi, bayam, kangkung diletakkan bersama-sama di paling bawah kulkas, atau kaleng minum yang diletakkan berdekatan. Nah itu namanya klasifikasi.

Bagaimana klasifikasi buku di perpustakaan?

Klasifikasi di perpustakaan berarti mengelompokkan bahan pustaka ke dalam ciri-ciri yang sama sesuai dengan bahan tersebut.

Tujuan pemberian nomor klasifikasi ini supaya nantinya buku-buku dengan subjek yang sama akan  tergabung dalam satu  jajaran di rak. Nomor klasifikasi ini dicetak pada label yang kemudian ditempel pada punggung buku. Di sinilah call number yang tadi diceritakan berada.

Dengan klasifikasi, semua buku-buku dengan subjek sama akan berada berdekatan di rak. Misalnya semua buku dengan subjek “arsitektur taman” akan berkumpul di rak nomor 7, sementara semua buku-buku dengan subjek “filsafat” di rak nomor 1.

Sehingga jelas, inti utama dari pemberian nomor klasifikasi buku adalah mengumpulkan subjek yang sama dalam satu jajaran dan memudahkan pengguna perpustakaan (pemustaka) menemukan informasi atau buku yang ia butuhkan.

Ada berbagai sistem penomoran klasifikasi yang digunakan di berbagai perpustakaan di seluruh dunia. Standar internasional, istilah kerennya. Sistem penomoran itu di antaranya adalah DDC (Dewey Decimal Classification Number), UDC (Universal Decimal Classification), dan LCC (Library of Congress Classification Scheme).

Mari membahas salah satu sistem klasifikasi perpustakaan yaitu DDC atau Dewey Decimal Classification.

DDC merupakan salah satu bentuk klasifikasi yang banyak digunakan di perpustakaan, diciptakan oleh Melville Louis Kossuth Dewey atau biasa disebut Melvil Dewey pada tahun 1876.

DDC membagi ilmu pengetahuan menjadi 10 kategori utama; yaitu

000 Ilmu pengetahuan umum

100 Filsafat dan Psikologi

200 Agama

300 Ilmu sosial

400 Bahasa

500 Sains

600 Teknologi

700 Seni dan rekreasi

800 Sastra

900 Sejarah dan geografi

Dari 10 kategori utama itu, DDC akan membagi lagi ke dalam 100 divisi lagi yang lebih spesifik. Dari 100 divisi itu kemudian akan dibagi lagi menjadi 1000 bagian. Dari umum ke khusus, begitu inti utamanya. Sehingga semakin panjang sebuah nomor klasifikasi, semakin spesifik lah cakupan dari buku tersebut.

Misalnya:

Buku “Pengantar arsitektur” masuk dalam kelas 720

Buku “Gambar arsitektur” masuk dalam kelas 720.284

Meski DDC merupakan standar klasifikasi yang umum digunakan, namun setiap perpustakaan tetap memiliki kebijakan masing-masing mengenai sistem penomoran ini.

Contoh lain lagi yaitu LCC atau Library of Congress Classification. Berbeda dengan DDC yang menggunakan notasi desimal, LCC menggunakan alfabet A-Z untuk setiap subjek.

Bahkan sah-sah saja sebuah perpustakaan mengelompokkan buku misalnya berdasarkan abjad atau berdasarkan tinggi bukunya, dengan syarat jumlah buku yang dimiliki tidak banyak dan si pemilik memang mampu mengingat di mana letak buku tersebut. Ini biasanya terjadi pada perpustakaan keluarga dengan cakupan buku sedikit. Tapi kalau jumlah buku yang tersedia banyak dan diperkirakan akan terus membengkak, perpustakaan harus menggunakan sistem klasifikasi supaya nantinya tidak membingungkan.

Untuk perpustakaan skala kecil semacam taman baca atau perpustakaan anak, biasanya tidak menggunakan sistem klasifikasi angka tapi hanya label warna untuk membedakan tiap koleksinya. Misalnya buku dengan label warna hijau untuk buku bacaan anak bergambar, label warna oranye untuk novel remaja, label warna merah untuk ensiklopedi, dan seterusnya.

Anak-anak akan cenderung mengambil sendiri dan mengacak-ngacak buku di rak karena haus akan bacaan, maka untuk memudahkan saat shelving (pengembalian buku ke rak), penggunaan label warna pun sudah lebih dari cukup. Warna-warna yang eye catching pada label yang terlihat dari jauh juga bisa semakin menarik minat anak-anak untuk membaca.

Label warna

Nah, sekarang sistem klasifikasi yang seperti apa yang digunakan di perpustakaanmu?

About these ads

25 responses to “Klasifikasi buku di perpustakaan

  1. Pingback: Tulisan perpustakaan | rumahijaubelokiri·

  2. Pingback: Ngebolang ke Warabal (lagi) | rumahijaubelokiri·

  3. Pingback: Perpustakaan? Titik-titik | rumahijaubelokiri·

  4. selamat pagi penulis yg baik.
    saya mahasiswa informasi dan perpustakaan semester 2 dan belum bnyak pngalaman sama sekali di dunia perpustakaan lngsung. liburan ini saya isi dgn kegiatan magang di sebuah kantor studio agensi dan manajemen fotografi. ternyata di dalamnya terdapat perpustakaan sederhana namun pengklasifikasiannya tidak sesuai dgn rule klasifikasi manapun (hny diberi nomor saja pada spine buku) dan saya diminta untuk setidaknya mendata buku2 disana, jika menggunakan klasifikasi DDC tidak memungkinkan jadi sebaiknya apa yg harus saya lakukan?
    Mohon dijawab dan terimakasih banyak perhatiannya

    regards,
    kika

    • Dear Kika. Berhubung saya yg nulis bagian ini jadi saya yg jawab ya hehe. Semoga yg saya sampaikan bisa menjawab pertanyaanmu.

      Pertama2 Kika harus lihat dulu subjek apa saja yang ada di perpustakaan sederhana tersebut.

      Misalnya: koleksi perpustakaan seluruhnya adalah buku tentang fotografi. Nah kalau seperti ini saya rasa tidak perlu pakai klasifikasi, cukup di data saja.

      Tapi misalnya koleksi terdiri dari berbagai subjek, bisa pakai saja label warna. Misalnya buku sosial pakai label warna kuning, buku teknologi pakai label warna merah, dst.

      Atau misalnya koleksi seluruhnya ttg fotografi tapi alirannya berbeda2. Misalnya ada 50 eksemplar buku tentang fotografi alam liar (wildlife), 100 eksemplar buku tentang fotografi model, dsb, maka utk memudahkan cukup bikin saja papan atau penunjuk dengan huruf besar yang ditempel di bagian atas rak tempat memuat buku2 tersebut. Spy jelas perbedaannya.

      Intinya klasifikasi digunakan utk mempermudah pencarian. Kalau hanya pakai nomor saja di spine dan itu tidak menyulitkan pengguna saya rasa tak masalah.

      Bagaimana? Semoga jelas ya dan ga bingung.

  5. maaf mau tanya, sy adlh pedtng baru, pngetahuan sy 0 ttg perpustakaan, sy d tunjuk bkn krn mengerti, tp hnya dadakn, mumpung perspustakaan sudah d bangun buku udh dtng, jd sy ingin bantuan teman2 untuk meberikn sy pengetahun tetng penomorn buku2 yg ad d perpus sekolh sy, terima kasih…

    • Kalau perpustakaannnya masih sederhana dan koleksinya belum terlalu banyak bisa pakai 10 kelas utama DDC saja dulu seperti yang sudah diuraikan di dalam tulisan. Atau bisa juga pakai label warna. Misalnya label warna hijau untuk koleksi sains, label warna kuning untuk koleksi sosial, dst. Kebijakan ini bisa ditentukan oleh bapak sebagai petugas dan disesuaikan dengan kebutuhan perpustakaan.
      Semoga membantu.

  6. SY MAU TANYA SY ORANG BRU MENGELOLA PERPUSTAKAAN, TP SY TDK MENGERTI TENTANG PENGOLOMPAKAN ATAU KLASIFIKASINYA ITU BAGAIMANA. MISAL BUKU PENGAYAAN NOMOR KLASIFIKASINYA,.BUKU FIKSI NOMOR KLASIFIKASINYA, BUKU REFERENSI NOMOR KLASIFIKASINYA, BUKU PELAJARAN NOMOR KLASIFIKASINYA? TOLONG DIBANTU. MAKASIH

    • Sederhananya, pengelompokkan/pengklasifikasian buku adalah membedakan/membagi buku menjadi kategori tertentu berdasarkan subjek isi buku (buku itu bicara tentang apa?).
      Klasifikasi buku pun tidak harus memberi tanda pada buku seperti pemberian call number ataupun menempelkan stiker warna tertentu, bisa juga dibedakan menurut penempatan di rak.
      Sebagai contoh, jika Anda masuk ke dalam toko buku, buku yang dijual ditempatkan di lokasi rak yang berbeda sesuai dengan subjeknya: AGAMA/Islam, AGAMA/Kristen, KESEHATAN, SEJARAH, EKONOMI, POLITIK, FIKSI/Anak, FIKSI/Dewasa ,dsb.

      Semoga membantu. :)

  7. Pingback: Kunjungan ke Perpustakaan ITB | rumahijaubelokiri·

  8. Pingback: Klasifikasi buku di perpustakaan | Just Sharing·

  9. Hai penulis yang budiman saya seorang petugas pustaka Θΐ smp n 9 merangin provinsi jambi saya ingin tanya Bagai mana menentukan nomor buku Θΐ perpustakaan kan nomor buku Θΐ bagi lami ke divisi tolong jelasin

  10. hai penulis, saya bekerja di perpustakaan di sebuah SMP swasta di kalimantan barat. saya di tugaskan karena tidak ada tenaganya dan perpustakaannya lumayan memiliki koleksi buku yang banyak. saya ingin mengelolanya dengan baik sesuai dengan aturan yang ada tapi saya sama sekali tidak mengerti untuk membuat nomor klasifikasilah, call numberlahlah sistem DDClah dan lain sebagainya. kepala saya jadi pusing karena saya buka-buka internet tentang kepustakaannya tapi saya tetap bingung. saya harus memulai dari mana jika ingin memberbarui sistem yang telah ada selama ini. terimakasih atas sarannya.

    • Salam kenal ibu Sri. Semoga jawaban saya bisa membantu dan nggak bikin tambah pusing ya hehe. Berikut secara sekilas tahap awal pengelolaan koleksi. (Kita simpulkan saja semua koleksi ibu berbentuk buku tercetak ya).

      1. Ibu bisa mendata dulu semua buku yang menjadi koleksi perpustakaan jika memang blm pernah sama sekali dibuatkan daftarnya. Data ini dimasukan secara manual ke dalam buku induk (isinya biasanya judul, pengarang, tahun terbit, waktu kedatangan buku, ataupun sumber buku misalnya dari pembelian atau hibah). Pada tahap ini buku bisa sekalian diberi cap/stempel yang menandakan buku tersebut milik perpustakaan SMP ibu.
      Kalau ingin mulai belajar melakukan otomasi perpustakaan, pada tahap ini buku juga bisa di-input datanya ke komputer. Ibu bisa menggunakan software perpustakaan seperti SLIMS (Senayan Library Information Management System) yang bisa didownload sendiri. Info lebih lanjut mengenai SLIMS bisa dilihat di sini >> http://slims.web.id/web/

      2. Kelompokkan/klasifikasikan. Seperti yg saya jelaskan pada artikel ini, maka jadi wewenang perpustakaan terkait utk menentukan mau pakai klasifikasi model apa. Kalau bukunya tidak terlalu banyak jumlahnya, ibu juga bisa mengelompokkan berdasarkan 10 kelas utama DDC saja (lihat lagi 10 kelas tsb pada artikel di atas). Jadi buku-buku di rak terpisah2 antara subjek agama, sains, sastra, dst. Ini bisa dibilang cukup mudah. Setelah itu ibu bisa menempelkan tanda bertuliskan subjek tsb pada rak buku supaya pemustaka (pengguna perpustakaan) mudah untuk mencarinya di rak. Juga mudah bagi ibu nantinya melakukan shelving atau pengembalian buku ke rak setelah digunakan.

      3. Buat nomor panggil. Jika dirasa perlu ibu bisa membuat call number yang ditempel pada buku (lihat juga keterangannya di atas). Atau membuatnya berdasarkan kebijakan perpustakaan ibu sendiri.

      4. Tempelkan sarana pendukung seperti kantong peminjaman untuk cap pengembalian buku jika memang buku2 boleh dipinjam murid ke rumah.

      5. Urutkan buku-buku di rak sesuai dengan no klasifikasi yang sudah dibuat.

      Langkah di atas tidak saklek, tetapi hanya contoh paling mudah dari pengelolaan awal perpustakaan. Semoga bisa membantu dan mungkin nanti ada tambahan lagi dari partner saya.
      Terima kasih sudah singgah, salam perpustakaan.

    • Hi, Sri.
      Saya hanya ingin menambahkan “memulai darimana” nya. Mari mulai dengan senangi yang akan kamu lakukan, tak hanya lakukan apa yang kamu senangi saja.
      Selamat memulai bertugas di perpustakaan! :)

  11. hai penulis,
    saya pendatang baru dari NTT-sumba timur,saya mau brtanya bagaimana cara mendapatkan hasil yang di tempel pada buku,,sehingga mendptkan hasil angka yg bnyaknya,smp saat ini sy blm mengerti tntang itu semua.tolong berikan penjelasannya..semoga di balas cepat..terima kasih

    • Hi, Adhel.
      Deretan kelas yang banyak pada nomor panggil di punggung buku itu tergantung dari subjek utama buku tsb. Misal buku tersebut berbicara secara umum tentang “Hukum”, maka nomor kelas hanya 340, lain lagi kalo buku tentang “Hukum di Indonesia”, maka nomor kelas jadi misal 340.598 (saya lupa penambahan ini, harus lihat kitab DDCnya, hehe). Penambahan 598 untuk wilayah Indonesia itu tergantung instruksi yang tercantum di buku DDC untuk kelas 340.
      Banyaknya nomor kelas lebih kepada membantu menglasifikasikan buku secara lebih spesifik, terkadang tergantung kebutuhan dari Perpustakaan. Apakah dibatasi hanya secara umum saja atau ingin mendetailkan.
      Sekian, semoga jawaban dari kami membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s